"Bringing stories to life through illustrations and words, I aim to inspire and connect through art."
Here, you will find a collection of poems and short stories that reflect my feelings, experiences, and imagination. Each work is a journey through words that attempts to capture the simple yet meaningful moments in life. Through a reflective and sometimes romantic style, I hope to touch the heart and invite readers to feel the beauty in each story and verse. Enjoy!
"Kata-kata ini adalah jendela, ke dalam jiwa yang berbicara, setiap bait adalah langkah, menuju dunia yang tak terlihat."
Aku suka kamu, seperti aku suka buku.
Meski
banyak yang tak suka, bagiku buku adalah ladang
inspirasi.
Pertemuan kita di perpustakaan
membuatku tahu,
Dirimu juga suka membaca, dan
terlihat begitu menawan.
Jantungku berdebar saat melihatmu,
seperti
menemukan harta karun di antara lautan kata.
Sejak
itu, aku tahu ada sesuatu yang lebih berharga dari
sekadar buku
aku menemukanmu, harta karunku yang
tak ternilai.
Perasaan ini tumbuh tanpa suara,
seperti
angin yang meniup api kecil menjadi bara.
Semoga
kisah kita tak berakhir sia-sia,
aku ingin kita
menulisnya, bersama selamanya.
Aku akan berusaha...
Menyatakan perasaanku
ini, seperti menuliskan ending dalam sebuah
novel yang indah.
Aku suka kamu, ya, dan itu nyata
Pada awalnya,
aku ingin menyangkalnya, namun
Mata dan pikiranku
tanpa sadar mencarimu
Walau aku tau, kita berada
di ruang yang sama
Aku suka kamu, sekali lagi, ya, itu benar
Kamu
gak harus menyukaiku; ehh itu salah
Aku harus
membuatmu menyukaiku
Walau nyatanya
sangat membuatku ragu
Aku menyukaimu, sudah hampir setahun lamanya
Dan
rasa ini, tak ingin kutukar dengan apa pun di dunia
Apakah waktunya tiba untuk kubisikkan di
telingamu?
Aku tak tahu, hanya memikirkannya
hatiku beradu
Aku sadar, jika terus terdiam mungkin...
akan ada yang lebih dulu mengetuk pintu hatimu
Apa hari ini? Esok? Atau kapan kata-kata ini
harus meluncur?
Ragu begitu kuat, mengikat,
menahan langkahku kian mundur
Langit tak berbatas, dan bangku kosong di sampingku,
Semuanya sama, hanya aku yang tak menentu.
Kepergianmu bagai hujan yang membasahi,
Namun kini ku paham, tanpamu aku tak bimbang
lagi.
Sunyi tak menjebakku dalam sepi yang mendalam,
Namun kini ia merangkulku lembut dalam damai
yang terang.
Di sini angin berbisik, lembut tak
bersuara,
Mengisi ruang yang dulunya penuh
dengan canda tawa.
Hanya aku, bangku, dan langit yang membentang,
Merenung di bawah senja yang perlahan
menghilang.
Didalam hening ini, pikiranku
melayang,
Tanpa takut salah, tanpa cemas
mengganggu malam.
Kini ku mulai terbiasa, tak lagi mencarimu,
Di sudut perasaan ini, ku temukan jalanku.
Pada akhirnya, aku mulai tersadar
Bahwa
ketenangan tak seburuk yang kupikirkan.
"Di dalam prosa, ada aliran rasa, seperti sungai yang tak pernah berhenti mengalir. Setiap kalimat adalah ombak, menggulung kisah yang menanti untuk diceritakan."
"Kalau kau begitu ingin isi hati seseorang suruh mereka untuk tuliskan dalam paragraf."
Di hari ini
Suaraku pasti menjadi api
Jiwa
yang kandas
Selalu merindukan pada kerinduan
Di hari itu
Bintangkan malam-malam itu
Menjadi
suara hatimu
Penuh dengan kenangan tak berarti
Menjadi
selembar foto hitam putih
Mata yang lebar
Hati yang tenang
Burung
yang terbang
Jiwa yang merangkak
Apakah akan seperti ini ?
Apakah kita akan
seperti ini ?
Apakah hati yang terkikis ?
Apakah
hati yang meniup serunai ?
Maka di harimu dan langit biru
Pastikan
suaruku datang laut
Pastikan hatiku menjadi
bagian dari laut
Pastikan suara hatiku mewarnai
sajak ini
Biarkan jiwaku
menyalakan suara hati ini
Hari itu, kau datang
Karangan yang tak kunjung
menenang
Hari hidup kembali
Kini kau
jalani
Delapan belas tahun kembali
Perkenalan akan dunia
Kau bingung. Kau
tertawa
Ketika orkes memulai musiknya
Tawa
larimu tak ada hentinya
Sejenak, sejenak
Tenangkan hati dan
benak
Kembali di situ situ saja
Dirimu yang
s'lalu bertanya
Kini adalah kamu
Harimu menjadi dirimu
Menembus
kabut
Jiwa yang berserabut
Selamat ulang
tahun
Dirimu jiwamu sadarmu
Delapan belas
tahun berada dalam dirimu
Peradaban masa bernada
Tak tertulis aturan yang
berada
Diri yang berada
Keluarga yang
selalu di dada
Apakah ini sebuah magis?
Hidup diatur sang
penulis?
Hidup hitam di atas putih
Kita
bukanlah kuda putih
Bukanlah diri yang gigih
Kian dulu, seorang dalang
Dalang tak
memainkan wayang
Wayanglah yang memainkan masa
Benarkah
sebuah wayang ?
Berada di atas putih ?
Itukah
masa merah menutupi gairah ?
Peradaban masa kasih sayang
Masa menjadi
diri yang baru
Bukanlah dirimu yang baru
Apa
ini keluargamu ?
Mengapa dirimu ?
Menjadi
seorang penulis
Yang menulis
sebuah peradaban ?
merah, tak pernah menjadi amarah
apakah diriku
menjadi pemanah ?
apakah dirimu yang menjadi
wabah ?
cahaya, di hati
di dalam peti mati
diriku
yang menjadi saksi
hidup hancur menjadi mati
maaf, diriku
raungan angin menyertaiku
melepas
perlahan, mematikanku
kali
ini, maaf, diriku
Mungkin hati ini terlalu tabah
Tetapi tak dengan
hujan bulan juni
Rahasia yang tertanam
Rintik
- rintik yang selalu ditanam
Kelopak bunga
Terkadang lebih bijak
Dari
hujan bulan juni
Menghapus jejak - jejak kaki
Yang
meragukan jalan ini
Tak ada yang lebih asri
Dari hujan bulan
juni
Biarkan yang tak terucap
Diserap
akar akar hujan ini